Senin, 12 Februari 2018

D I A

Dia. Kekacauan paling menyenangkan tapi pandai membuatku jatuh cinta sampai berulang-ulang.
Dia. Seseorang paling menyebalkan tapi bisa dengan mudahnya menjadi sesuatu yang selalu ku rindukan.
Dia. Manusia paling keras kepala dari yang pernah ada tapi dengannya juga aku selalu meminta agar alam semesta bersedia menyatukan kita.
Dia. Sesuatu yang kehadirannya tidak pernah diduga tapi namanya bisa dengan cepat terpahat di tubuh do'a.
Dia. Harapan yang masih belum pasti tapi tak hentiku semogakan di balik malam-malamku yang sunyi.
Dia. Cinta yang mungkin saja hadir untuk menguji tapi selalu ku aminkan untuk menjadi takdir diri.
Dia. Satu yang paling mengganggu tapi telah menjadi salah satu bagian dari mimpi-mimpi di masa depanku.
Dia. Ketentuan Allah yang masih semu tapi harap yang menggema di dalam kalbu tak pernah lepas menginginkan hadirnya menjadi nyata untukku.

Februariku

Aku berdiam dan bersetubuh dengan malam,
Sudah pasti langit jingga berganti hitam,
Bergeming dengan tinta hitam memeluk kesunyian,
Mencoba memahami ruang luas bernama perasaan,
Ku rangkai satu kata demi kata,
Tentang cinta yang saling bersengketa,
Kenyamanan hilang makna,
Dan kesedihanpun melanda,
Februariku tak lagi sama,
Beda dari sebelumnya,
Ia rumit,

Menangis dan menjerit.




Batang, 13 Februari' 18

Sabtu, 20 Januari 2018

Terimakasih

Untukmu yg masih menjelajahi mimpi, terlelap pulas dengan kain tebal yg menyelimuti tubuh kurusmu. Pria kedua yg selalu ada dalam pikiran setelah ayahku. Yg beberapa bulan ini hadir membawa kenyamanan, membuatku bahagia di tiap harinya. Menyembuhkan luka hati dan masuk entah dari mana pintunya. Kau yakinkanku bahwa kaulah pemilik hati yg sebenar-benarnya.
Aku selalu mengkhawatirkanmu, ketika kita tak pernah bertegur sapa lewat layar ponsel dan pikiranku beradu.
Aku selalu cemburu pada waktu, ia selalu bisa memelukmu erat pada tiap detiknya. Menjelajahi waktu panjangmu dengan terus bersama.
Kau tahu Tuan?  Rinduku selalu hadir tak kenal waktu yg ku ingin kau tetap bersamaku dengan tangan saling menggenggam. Seperti yg kau katakan; "Rindu kamu terus", begitupun aku yg menahan sesak untuk menanti pertemuan.
Terimakasih kau telah memilihku.
Bahkan kau tahu aku bukan yg terbaik tapi kau tetap mencintaiku dengan baik.

Semarang,  21 Januari 2018

Aku masih sama menjajaki satu lembar demi lembar, pikiranku masih beradu pada sebuah novel karya Dwitasari.
Secangkir coklat hangat dengan deruh suara hujan mengingatkanku pada pemilik hati disana.
Lupa?  Mungkin...
Ahh sudahlah kita sudah dewasa bukan saatnya untuk memikirkan hal yg menambah beban pikiran. Lamunanku terhenti,  seorang lelaki tinggi dengan jaket biru datang menghampiri. Sudah ku tebak ternyata itu bukan kau wkk. Lalu siapa?  Sebentar ku coba mengingat namun nihil kau sulit ku raih.
Soreku hambar masih saja rinduku tak kunjung pudar  nyatanya kau belum juga sadar.

Jumat, 19 Januari 2018

Kehilangan

Beda. Hilang. Pergi.
Tiga kata yg selalu terngiang-ngiang di otakku beberapa hari ini. Mungkin aku tak sempurna dari mereka yg pernah singgah di hidupmu. Aku sadar diri, itu jawaban dalam batinku. Tuan?  Bolehkah aku menjajaki hatimu lebih dari ini ? Aku tak ingin hanya sekedar harap yg berujung kecewa. Setiap perempuan pasti memiliki mimpi yg membawanya pada sebuah kebahagiaan.
Entah apa yg membuatmu kembali berbelok,  kau berbeda. [Asing]... tak lagi ku temukan sosokmu di dekatku. Kau menghilang lalu pergi terbawa senja yg tertelan oleh gelapnya awan di pergantian waktu.



Semarang,  19 Januari 2018

Kamis, 18 Januari 2018

Kenangan

Apapun yg ku jalani sekarang bukan lagi tentang kau dan aku, melainkan tentang keikhlasan di tiap harinya. Bagaimana kita mengenal, kemudian dekat, saling sayang dan menghilang. Semuanya sudah terskenario di atas kertas putih yg tak berwujud. Dikemas dengan indah tersimpan rapi dalam sebuah buku yang bernama Kenangan. Tak semestinya apa yg kita harapkan akan berujung pada kenyataan. Manusia diciptakan dengan berbagai macam rasa, dulu kau selalu bilang : Manusia hidup untuk membahagiakan orang lain membuatnya tertawa adalah sesuatu kewajiban bukan ? sekarang aku paham betul. Aku dan kamu harus bahagia meski dengan kata kita atau tidak. Yahh... itu kalimatmu sebelum kau menghilang tanpa pamit sore itu.



Semarang, 18 Januari' 18